ukhtinadia






~!~mantapkan iman, sahihkan ibadah, kukuhkan ukhuwah~!~



:.shahaa qalbi wa'aada ilayya 'aqli waaqshuru bathili wanasiitu jahli.:



ta'aala nu'minu sa'ah



"Allah menganugerahkan al hikmah(kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan a Sunnah) kepada sesiapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi kurnia yang banyak.Dan hanya orang orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran(dari firman Allah)" (2:269)



"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin n manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami(ayat ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah.Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang orang yang lalai." (7:179)



inna fii qalbil mu'mini siraajan yazharu



Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)?
Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?
Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)?
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa?
Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,
Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,
Dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu),
Dan bahwasanya dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
Dan bahwasanya dialah yang mematikan dan menghidupkan,
Dan bahwasanya dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.
Dari air mani, apabila dipancarkan.
Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),
Dan bahwasanya dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,
Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?

Telah dekat terjadinya hari kiamat.
Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?
Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?
Sedang kamu melengahkan(nya)?
Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).


"Let him who believes in Allah and the Last Day either speak good or keep silent."


tautan ukhuwah


dAkWah iNfo

koMik beSt

berSeni sKet

tAnahAir kIta

pEmBiNA

DaKwaTuna

KulIAh SiRah :D

IsMA GaNU

pEMbiNa GaNU

kRIm GaNU



my beloved


h3r heArt

pRojeK TaghyIr

UmAisHa

EinHyAtt

luv PalesTine

aMatUllAh

.aNNisa.

uMmuILhaMI

uMMu iNsYirah

uMmU Wafa'

uMmu IbRahim

UmmU SaLAdin

cIK LiN M2M

cIk B3e

CIk KhAlisah

CIk marshahida

cIK fArAh :D

CIk SyADa

pUan cheeKy

pUAn RIna

bAhteRa hAti

NadIa cBR ^0^

tHuAIbah cBR ^0^

AMirah AmIN

Izza uiaK

sak3ena

cik Yuz

dibBun mUslim

kAk SYaf

umM MUjaHid

uMm Syifa'

cik Tmc

k. Anem

hUda Af

aCu FArah

faRaH WAhe3da

eKIn JakaRta

k Aishah HattA

k. PijA aDel



aSaTIzah


UQy

UHA

UFA

UAZ

UAS

AAY




di sini tazkeer kita :



   

<< June 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, June 21, 2009
KurniaNya

petikan tausiyah yang dikirim...

Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya. Ulama tersebut berkata, "Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?" Orang itu berkata, "Tidak."

Sang ulama bertanya lagi, "Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?" Orang tersebut menjawab, "Tidak." Sang ulama yang dikenal shalih itu kembali bertanya, "Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?" Orang tersebut lagi-lagi menjawab, " Tidak."

"Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?," tanya sang ulama lagi. Dan sekali lagi orang tersebut mengatakan, "Tidak." Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, "Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?!"

*    *    *

Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari, bahwa nikmat Allah meliputi segala hal; keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, harta, rezeki, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya, dimana seseorang tidak akan mampu menghitungnya sekiranya dia hendak menghitungnya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya ataupun tidak.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan Dia memberikan semua yang kalian minta. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

Dalam kitab tafsir Al-Qurthubi (Al-Jami' li Ahkam Al-Qur`an) disebutkan, bahwa Allah memberikan semua yang kalian minta dan yang tidak kalian minta, seperti matahari dan bulan serta berbagai nikmat lain yang tidak kalian minta. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, bahwa dengan ayat ini, Allah mengabarkan tentang ketidakmampuan hamba-hambaNya jika mereka hendak menghitung berbagai nikmat-Nya, apalagi mensyukurinya.

Nikmat Allah harus kita syukuri. Kita harus berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang dikaruniakan- Nya kepada kita. Karena Allah berfirman, "Bersyukurlah kalian kepadaku, dan jangan kalian kufur." (QS. Al-Baqarah 152). Namun, ternyata bersyukur kepada Allah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali manusia yang tidak mau bersyukur, sebagaimana yang Allah firmankan, "Dan sedikit sekali hamba-hambaKu yang bersyukur." (QS. Saba `: 13)

Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Dalam kitabnya yang berjudul "Waqafat Ma'a An-Nafs," Syaikh Amin Muhammad Jamal menyebutkan bahwa tiga syarat tersebut, yaitu: Pertama; mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari Allah. Kedua; kita harus bahagia dan gembira dengan nikmat yang Dia berikan kepada kita. Dan ketiga; melakukan hal-hal yang disukai oleh yang memberi nikmat, baik itu melalui lisan dengan mengucapkan "alhamdulillah", ataupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai oleh Pemberi Nikmat.

Mensyukuri nikmat Allah juga bisa dilakukan dengan menampakkan sebagian nikmat tersebut dalam penampilan dan memperlihatkannya kepada orang lain, namun bukan dengan niat sombong. Melainkan dengan niat hendak memberitahukan kepada manusia bahwa Allah telah memberikan nikmat-Nya kepadanya. Bagaimanapun juga Allah senang jika ada hamba-Nya yang berbahagia dengan nikmat yang Dia berikan dan menampakkan bekas nikmat-Nya di hadapan hamba-hambaNya yang lain. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya yang Dia berikan kepada hamba-Nya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma)

Suatu hari Imam Malik bin Anas keluar menuju masjid dengan pakaian yang mahal dan indah. Di tengah jalan, beliau berjumpa dengan seorang muridnya. Si murid berkata, "Apa-apaan ini, wahai imam?" Maksudnya, kenapa engkau memakai pakaian yang sangat bagus seperti ini, wahai imam? Bukankah ini adalah pamer dan menunjukkan kesombongan? Imam Malik berkata, "Ini adalah bekas nikmat Allah yang Dia berikan kepadaku. Apakah engkau belum pernah membaca firman Allah pada akhir surat Adh-Dhuha; Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits! (Dan adapun dengan nikmat Tuhanmu, maka kabarkanlah! )?"

Terakhir, ada satu catatan penting yang bisa membuat kita introspeksi dalam masalah syukur nikmat ini, yaitu tentang janji Allah bahwa Dia akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita apabila mau bersyukur kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7). Berpikirlah dengan tenang, apakah selama ini Anda merasakan bahwa nikmat Allah (rezeki, dsb) kepada Anda terus bertambah atau tetap atau justru berkurang? Sekiranya Anda merasa bahwa tidak ada perubahan dalam kehidupan Anda pada tahun ini dengan tahun yang lalu, maka cobalah untuk berintrospeksi, siapa tahu Anda belum bersyukur dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Sebab, jika Anda benar-benar telah bersyukur kepada-Nya, maka pasti, Allah akan selalu menambahkan nikmat-Nya kepada Anda.


Posted at 09:16 am by ukhtinadia

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry